Tadabbur Surat Al Fajr

27 December 2013 - Kategori Blog

Demi Waktu Fajar

Seperti kebanyakan surat-surat pendek di dalam al quran, surat Al Fajr menurut jumhur ulama diturunkan Allah di Kota Makkah setelah turunnya surat Al Lain. Mengapa surat yang kita bahas pada kali ini disebut surat al Fajr, dinamakan surat tersebut sebagai surat al fajr karena pembukaan surat ini dimulai dengan sumpah Allah dengan waktu fajar.

Secara garis besar surat ini mengandung 3 tema besar; yang pertama kisah tentang pembangkangan umat terdahulu atas para rasul dan bagaimana keadaan mereka atas sikap sombong mereka. Yang kedua tentang sunnatullah yang berlaku di dunia ini. Ada kesenangan, ada kesulitan, ada yang bahagia dan ada yang susah serta tabiat manusia yang selalu cinta harta dan dunia. Dan yang ketiga surat al fajr ini bercerita tentang hari kiamat dan huru haranya.

Sumpah Allah Tentang Al Fajr
Yang dimaksud al fajr di sini adalah waktu subuh atau fajar shadiq. Dinamakah “Shadiq” karena fajar tersebut membenarkan hilangnya waktu malam dan membenarkan akan datangnya waktu siang. Allah bersumpah dengan waktu fajar, sumpah ini mengindikasikan bahwa waktu fajar merupakan waktu yang diistimewakan oleh Allah.

“Dan Demi Malam yang sepuluh”
Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan malam yang sepuluh adalah 10 hari pertama di bulan dzulhijjah. Sebagian lagi ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan malam yang sepuluh adah malah 10 terakhir di bulan ramadhan. Ada juga yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan malam yang sepuluh adalah 10 hari pertama di bulan muharram karena di dalamnya terdapat Yaum Asyura dimana di hari tersebut Allah menyelamatkan Musa dari kejaran Raja Fir’aun.

Kemudian Allah melanjutkan sumpah-Nya. “Dan yang genap dan yang ganjil” (QS. 89: 3)

Ada banyak pendapat yang menafsirkan sumpah ketiga ini. Sebagian ulama menafsirkannya dengan hari Arafah dan Hari Idul Adha. Sebagian lagi mengatakan bahwa genap menunjukkan makhluk Allah dan witir mengisyaratkan penciptanya (khâliq). “al-watru” dalam ayat ini dibaca fathah wawu-nya sebagaimana bacaan jumhur qurra`. Yaitu bacaan kabilah Quraisy. Sedang bacaan yang menggunakan kasrah pada huruf wawu adalah bacaan kabilah Tamim([8]).

Ala kulli hal, dua bilangan di atas digunakan manusia dalam kehidupannya. Dan Allah bersumpah dengan hal yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Karena manusia, demikian juga makhluk-Nya masuk dalam bilangan tersebut. Genap atau ganjil.

Keempat kalinya Allah bersumpah. Kali ini dengan mengulangi menyebut waktu malam. “Dan malam bila berlalu” (QS. 89: 4)

Malam yang dimaksud dalam ayat ini adalah sebagaimana waktu malam yang setiap hari kita lalui dan selalu diakhiri dengan terbitnya fajar. Meskipun ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud di sini adalah malam Idul Adha.

Keempat hal yang dipergunakan Allah dalam bersumpah sangat menarik untuk diperhatikan. Terlebih penegasan untuk memperhatikannya dalang setelah Allah bersumpah dengan keempat hal tersebut. “Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal” (QS. 89: 5)

    Waktu Fajar
    Sepuluh malam
    Bilangan ganjil dan genap
    Waktu malam bila berlalu.

Pertama Allah bersumpah dengan fajar, waktu yang dimuliakan Allah. Kemudian Sepuluh malam mengindikasikan jumlah dan waktu. Bahwa di antara malam-malam yang dilalui manusia setiap hari pasti ada sebagian waktu yang dimuliakan Allah. Yaitu sepuluh malam yang dipakai bersumpah dalam ayat ini terlepas dari perbedaan ulama mengenai maksud dari malam-malam tersebut. Inti dari pembatasan ini adalah bahwa ada waktu-waktu tertentu yang diistimewakan Allah. Manusia yang cerdas akan menggunakannya dengan baik. Menginvestasikan waktunya untuk bekal masa depannya. Kemudian bilangan genap dan ganjil mengindikasikan adanya pasangan dalam kehidupan manusia. Ini adalah sunnah Allah. Allah menciptakan sebagian besar ciptaan-Nya secara berpasangan. Selain itu dengan bilangan ini seolah Allah juga mengingatkan bahwa manusia berada dalam batasan dua jenis bilangan tersebut. Maka gunakanlah waktu dengan sebaik-baiknya.

Bila malam telah sirna dan hari berganti terang. Ini akan bermakna jika kita mau memikirkannya secara mendalam. Bahwa kegelapan akan selalu berganti dengan cahaya yang terang. Menandakan bahwa tiada kekekalan dalam kehidupan dunia. Maka bersabarlah dan teruslah berusaha. Akan datang setelah malam cahaya yang dinanti-nantikan manusia, waktu ia akan menggunakannya bekerja. Sebaliknya, kelelahan bekerja akan sirna bila waktu malam datang. Saat sebagian besar manusia menggunakannya untuk beristirahat.

Demikianlah, Allah memberikan karunia kepada manusia berupa waktu. Tapi waktu tersebut selalu ada batasnya. Hanya orang cerdaslah yang bisa memanfaatkan waktu yang diberikan Allah dengan baik. Dan menjadi tabiat serta karakteristik waktu adalah selalu berputar dan tidak pernah berhenti sejenak pun.

Kisah-Kisah Kaum Terdahulu

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Aad? (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi.  Yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain”. (QS. 89: 6-8)

Kaum Ad adalah kaum Nabi Hud as. Keturunan Ad bin Ash bin Iram bin Sam bin Nuh. Penamaan ini menggunakan penamaan kakek moyang mereka. Yaitu orang-orang yang terkenal kuat. Yang menjadikan kota Iram sebagai kota yang sangat me-nakjubkan. Mereka menjadikannya pusat peradaban. Maka mereka bangun gedung-gedung yang menjulang tinggi dan kokoh yang tidak dijumpai di manapun saat itu. Kota Iram([9]) mereka sulap dengan gemerlap dan kemegahan yang luar biasa. Orang-orang yang menyaksikannya akan langsung tahu ketinggian peradaban mereka. Namun, ketinggian peradaban dan kekuatan fisik mereka tidaklah berarti jika mereka mendus-takan ajaran Allah swt. Nabi Hud yang diutus untuk mengingatkan mereka dan menun-jukkan jalan hidayah, mereka dustakan. Padahal sebelumnya mereka mengenal Hud sebagai saudara yang baik serta terpercaya. Tetapi setelah Hud mendakwahi mereka dengan risalah yang dibawanya dari Allah, sikap mereka berbalik memusuhinya. Maka, Allah musnahkan mereka. “Adapun kaum ‘Ad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum ‘Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah lapuk” (QS. 69: 6-7)

Kekuatan fisik dan ketinggian peradaban tak mampu menolong mereka untuk menghalangi dan menghindarkan dari murka Allah yang murka-Nya tiada terbendung oleh siapa dan apapun.

“Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah” (QS. 89: 9)

Adapun kaum Tsamud yang datang setelah Kaum ‘Ad musnah, tidaklah pandai mengambil pelajaran dan ibrah dari peristiwa dan sejarah keangkuhan serta kesombongan. Mungkin karena mereka memiliki fisik yang kuat mereka bahkan mampu memahat gunung-gunung batu dan kemudian menjadikannya sebagai hunian yang asri dan nyaman([10]).

Nikmat dan karunia yang sangat dahsyat ini tidaklah dibalas dengan kesyukuran dan perilaku yang baik. Hati mereka membatu. Jika mereka bisa memahat dan mengukir batu, tidaklah demikian hati mereka yang menjadi keras melebihi batu. Hal ini pun tercermin dari keangkuhan mereka ketika meminta Nabi Shalih untuk menunjukkan mukjizat Allah dan tanda kerasulannya. Mereka meminta batu-batu yang ada di hadapan mereka bisa mengeluarkan seekor unta. Dan setelah mukjizat ini benar-benar terjadi. Unta yang dipesankan oleh Nabi Shalih supaya tak disakiti, dengan sengaja mereka sembelih. Hanya sekedar untuk menyelisihi perintah dan petuah sang nabi. Maka, hati dan watak orang-orang yang membatu seperti ini memang sangat laik jika kemudian diadzab oleh Allah([11]).

“Dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak. Yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri. Lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu”. (QS. 89: 10-12)

Demikian juga contoh ketiga yang Allah ceritakan dalam surat ini. Fir’aun, bukanlah orang pertama yang angkuh dan sombong yang kemudian mematut-matutkan diri sebagai Tuhan padahal ia sangat ringkih dan penakut. Betapa ia lebih laik untuk disebut sebagai penakut. Karena ia sangat menakuti dan mencemaskan seorang bayi laki-laki dari kalangan Bani Israel. Hanya karena satu bayi laki-laki itu saja, ia kemudian mengerahkan segala kekuatan dan pengaruhnya untuk membunuh ribuan manusia dan sebagian besar adalah anak-anak kecil yang tak berdaya. Melawan tentaranya dengan persenjataan lengkap. Dan ketika kekhawatirannya menjadi nyata ia kemudian gelap mata. Untuk menutupi ketakutannya ini kemudian ia kumpulkan semua rakyatnya dan dengan congkak ia kemudian “…. berkata: Akulah Tuhan kalian yang paling tinggi”. (QS. 79: 24)

Ia memang memiliki pasukan yang sangat banyak dan kuat. Ia juga bisa membangun peradaban yang terus diingat orang-orang yang hidup setelahnya. Karena ia memiliki para teknokrat yang brilian yang dikomandoi Haman. Juga para ekonom dan akademisi serta kalangan profesional yang lain serta futurolog-futurolog, peramal dan para tukang sihir yang semuanya menopangnya menjadikan Mesir menjadi salah satu negara yang disegani saat itu. Tapi mengapa ia kerahkan semua kelebihan-kelebihan itu untuk memerangi Musa, anak tirinya yang hidup dan tumbuh dewasa di istananya. Yang para pengikutnya adalah kumpulan orang-orang lemah. Hanya karena Musa membawa risalah pengesaan dan penghambaan kepada Allah swt. Ia kejar Musa dan kaumnya, Bani Israel hingga perbatasan darat dengan laut merah. Pertolongan Allah pun datang. Musa membelah laut dengan tongkatnya. Fir’aun pun segera menyusulnya. Namun, Allah lebih cepat mengembalikan Laut Merah menjadi seperti semula. Fir’aun dengan segala kekuatan pasukan dan semua keangkuhannya tenggelam. Tak mampu menghadapi tentara Allah yang kali ini bernama air.

Adapun pasak-pasak yang dimaksud di sini adalah yang disediakan untuk menyiksa orang-orang yang membangkang. Jumlahnya empat digunakan untuk mengikat kaki dan tangan dan terdapat diberbagai tempat dan dijaga oleh tentara-tentara Fir’aun yang kejam. Sebagaimana yang dituturkan Imam al-Alusy([12]).

“Karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi” ([13]). (QS. 89: 13-14)

Orang-orang yang diberi kenikmatan seperti di atas dan kemudian tidak mau bersyukur. Tidak juga bersedia mengindahkan peringatan Allah melalui utusan-utusan-Nya. Maka, adzab Allah lebih tepat untuk mereka. Dan Allah terus mengawasi mereka dari waktu ke waktu. Namun, mereka tidak juga melakukan perubahan.

Kemuliaan dan Kehinaan

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: Tuhanku telah memuliakanku. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya, maka dia berkata: Tuhanku meng-hinakanku”. (QS. 89: 15-16)

Inilah standar kebanyakan manusia dalam menilai Allah. Betapa pendeknya pandangan mereka. Kesalahan persepsi ini didasarkan pada beberapa penilaian:

Membatasi rizki Allah hanya berbentuk materi yang bisa dilihat dengan kasat mata, padahal rizki Allah sangat luas. Selain berbentuk materi rizki Allah bisa berupa: kesehatan, ilmu, ketenangan jiwa dan sebagainya

Standar kemuliaan tidaklah dilihat dari materi yang ada pada seseorang. Demikian juga bahwa kehinaan tidaklah selamanya melekat pada orang miskin yang tak berharta. Tak sedikit orang kaya yang hina di mata sesamanya juga dalam pandangan Allah swt karena perilakunya yang buruk. Juga tidak sedikit orang miskin yang mulia karena akhlak dan kualitasnya.

Ujian Allah disikapi dengan prasangka buruk. Padahal seharusnya karunia Allah yang dianugerahkan mesti disyukuri dan dimanfaatkan dengan baik. Bila ada yang tidak sesuai dengan kehendak, maka sabar adalah sebaik-baik bekal dalam menghadapinya. Karena pada hakikatnya kekayaan dan kemiskinan adalah ujian Allah pada manusia dengan kondisi yang berbeda-beda.

Dengan persepsi yang salah tentang rizki ini akan berdampak pada sikap dan perilaku manusia. Mereka menjadi kikir dan sangat mencintai dunia. Secara lebih spesifik Allah menggambarkannya sebagai berikut:

Pertama, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim” (QS. 89: 17)

Penyimpangan pertama yang terjadi akibat salah persepsi mengenai rizki dan harta adalah menyia-nyiakan anak yatim dan menerlantarkan mereka. Padahal anak yatim yang miskin secara fisik dan psikis itu perlu dilindungi dan disayangi.

Kedua, “Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin” (QS. 89: 18)

Rasa kikir ini berlanjut dengan tidak mau memberi makan kepada fakir miskin. Bah-kan ia menganjurkan kepada orang lain untuk melakukan hal tersebut. Keburukan tabiat dan perilakunya membuatnya juga berusaha membentuk komunitas yang buruk. Yaitu komunitas yang menginginkan kekayaan hanya digenggam di tangan beberapa orang saja, supaya mereka bisa mengendalikan segalanya dengan harta. Apa yang mereka inginkan –dalam pandangan mereka- pasti selalu bisa didapatkan dengan harta dan uang.

Ketiga, “Dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang bathil)” (QS. 89: 19)

Yang lebih buruk dari dua hal tersebut adalah perbuatan memakan harta warisan. Ini adalah orang yang paling buruk. Ia memakan harta yang tidak menjadi haknya, kemudian harta yang dimakannya tersebut adalah hak saudaranya([14]). Ia melakukan dua penyim-pangan sekaligus. Penyimpangan harta dan penyimpangan ukhuwah. Terlebih penggunaan kata “ta’kuluna” yang berarti memakan mengindikasikan kerakusan untuk dinikmati sendiri dan memperturutkan syahwat perut tanpa peduli kondisi dan hak saudaranya.

Ibnu Zaid mengatakan: tambahan kata “lamma” ini untuk menguatkan kerakusannya. Ia memakan tanpa memperdulikan apakah yang dia makan itu halal atau haram, sehingga ia kehilangan rasa malu([15]).

Keempat, “Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan” (QS. 89: 20)

Kesalahan dan penyimpangan-penyimpangan yang didasarkan atas sifat kikir di atas jika tidak dilawan maka akan mengkristal. Pada saat sudah menjadi watak maka seseorang akan benar-benar sulit melepaskan diri dari materi. Saat itu ia benar-benar sangat mencintai dunia dengan kecintaan yang berlebihan yang akan menghancurkan-nya. Tidakkah cukup kisah Qarun menjadi cermin atas petaka yang diakibatkan oleh kecintaan yang berlebihan terhadap dunia?

Imam al-Qurthuby menafsirkan  kecintaan ini maksudnya adalah kecintaan yang berlebihan dalam mengumpulkan harta serta tidak menunaikan haknya dengan sedekah dan zakat([16]).

Berhentinya Kecintaan Pada Dunia

“Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut. Dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris.” (QS. 89: 21-22)

Keniscayaan yang tak bisa dihindari oleh manusia dan semua yang bernafas adalah menjumpai kematian. Bila ia mati, maka ia dipisah paksa dengan dunia yang sangat dicintainya. Sebelumnya ia tak sadar bahwa sikap salahnya tersebut kelak akan menghancurkannya. Karena kematian bukalah akhir dari segalanya. Nantinya, saat semua manusia dibangkitkan kembali dari matinya. Allah mendatangi mereka semua untuk meminta pertanggungjawaban. Para malaikat berbaris, ditugaskan Allah menjadi panitia pengurusan hari akhir.

“Dan pada hari itu diperlihatkan neraka jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya” (QS. 89: 23)

Saat semua tersingkap barulah orang-orang yang lalai tersadar. Panasnya neraka sudah terasakan, dan mereka segera mengingat kesalahan demi kesalahan yang dilakukan. Penyesalan dan mengingat hal yang demikian pada saat itu tidaklah berguna. “Dia mengatakan: Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini” (QS. 89: 24). Karena penyesalan di saat yang demikian menjadi sia-sia dan akan semakin membuat mereka menderita. Penderitaan di atas penderitaan. Fisik dan jiwa merana karena salah memilih sikap di dunia.

“Maka pada hari itu tiada seorangpun yang menyiksa seperti siksa-Nya. Dan tiada seorangpun yang mengikat seperti ikatan-Nya” (QS. 89: 25-26)

Dzat yang serba maha hari itu terlihat dengan jelas kekuasaan-Nya. Orang yang tadinya beriman dan yakin akan kebesaran dan kekuasaan-Nya akan semakin puas. Dan orang yang mengingkari-Nya pada hari itu terpaksa mengakuinya dengan berjuta penyesalan. Karena murka dan azdab-Nya sangat pedih dan menyakitkan. Tiada yang sanggup menghindar dari siksaaan-Nya. Tidak pula ada yang sanggup menghalangi-Nya untuk berbuat apa saja. Semua hijab telah dibuka. Karena hari itu adalah hari pembalasan. Selesailah hari perjuangan dan amal. Hanya tinggal menunggu hasil dan ganjarannya saja.

Jiwa yang Tenang

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku”. (QS. 89: 27-30)

Adapun orang-orang beriman yang memiliki jiwa yang tenang, saat perpisahan dengan jasad pun malaikat-malaikat-Nya memperlakukan dan memanggilnya dengan lembut. Sang pencabut nyawa juga berusaha tidak menyakiti saat memisahkan ruh dari jasad orang baik tersebut. Meskipun tetap saja usaha tersebut tidak berhasil, karena perpisahan jiwa dan raga tetap menyisakan rasa sakit yang tak terperikan. Saat raga di pendam di dalam perut bumi, jiwa yang tenang tersebut mi’raj ke langit.

“Jiwa yang tenang tinggalkanlah dunia dengan segala kepenatannya. Dengan tenang temui Tuhanmu” Demikian Abu Abdirrahman As-Sulamy mengomentari ayat di atas([17]).

Ia telah ditunggu penduduk langit yang menantikannya. Ia disambut dengan senyum. Ia segera bergabung dengan kafilah orang-orang salih dan bertaqwa. Kemudian ia nikmati fasilitas yang serba mewah yang telah Allah sediakan untuknya dan hamba-hamba-Nya yang baik. Semoga kita termasuk ke dalam golongan jiwa yang tenang. Amin.

Dr. H, Saiful Bahri, MA (Alumni Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu al-Qur’an Universitas al-Azhar, Cairo)

Comments are closed.

Dapatkan Diskon
Daftar newsletter